Berita Terbaru

TANTANG FORUM MAHASISWA SYARIAH

Saya kemarin, Ahad, 19/06/10, diundang oleh Forum Mahasiswa Syariah (Formasi) dalam acara Rakernas yang diikuti oleh Dewan Pimpinan Pusat Forum Mahasiswa Syariah (DPP-Formasi) di Aula Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel Surabaya.  Acara ini dikemas dengan berbagai acara, antara lain adalah Seminar tentang Peran Perbankan Syariah dalam Perkembangan Ekonomi Indonesia dengan Nara Sumber dari Bank Mandiri Syariah dan Bank Indonesia.  Acara ini tentu menarik sebab yang hadir dalam  forum ini adalah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Formasi se Indonesia dan Pengurus DPP Formasi.

Forum Mahasiswa Syariah merupakan lembaga independen yang menghimpun warga mahasiswa Syariah di seluruh Indonesia. Wadah ini merupakan sarana untuk berkomunikasi antara mahasiswa  syariah dari satu institusi PTAI dengan institusi PTAI lainnya. Di PTAIN memang sudah hadir organisasi kemahasiswaan yang  mengusung kedaerahan dan juga bidang studi. Menurut saya, hal  ini tentu perkembangan menarik, sebab di tengah kelesuan organisasi ekstra kampus lainnya, maka mereka kemudian memperkuat basis organisasi kedaerahan dan bidang studi dimaksud.

Mahasiswa PTAI memang memiliki tantangan yang khas dan berbeda dengan mahasiswa PTU. Tantangan tersebut terkait dengan program studinya yang khas.  Yaitu,  program studi keislaman. Oleh karena itu, menurut saya ada dua tantangan yang mengedepan pasca reformasi ini. Pertama, tantangan eksternal, antara lain adalah tantangan fundamentalisme agama yang terjadi akhir-akhir ini. Mengapa fundamentalisme bisa dianggap sebagai tantangan mahasiswa Syariah? Fundamentalisme yang dalam banyak hal  menghadirkan tindakan terror atas nama agama kebanyakan bersumber pada penafsiran ajaran agama yang literal atau tekstual. Misalnya kata jihad yang dipahami sebagai jihad ofensif dengan memerangi orang lain yang berbeda dengannya. Terutama orang barat yang dianggap sebagai biang kerok kerusakan moral masyarakat Indonesia.

Mahasiswa Syariah diharapkan memiliki jawaban atas nama paham keagamaan yang rahmatan lil alamin. Makanya, tafsir kekerasan tersebut perlu dijawab dengan tafsir perdamaian. Islam yang mengedepankan keselamatan dan perdamaian. Mahasiswa Syariah dan seluruh komponen akademiknya harus menjadi tempat untuk  memberi fatwa atau nasehat tentang berbagai hal yang bercorak kekerasan tersebut. Jadi untuk memberi  fatwa atau nasehat tentang konflik Poso atau Ambon tentu tidak perlu ke Timur tengah,  akan tetapi cukup ke PTAI, khususnya Fakultas Syariah.

 Kemudian, tantangan legal drafting terkait dengan perundang-undangan di Indonesia. Bukankah banyak aturan perundang-undangan yang memerlukan pengkritisan terhadap conten aturannya. Misalnya UU Haji yang baru ditetapkan ternyata juga perlu untuk dikritisi. Hal ini tentu saja terkait dengan implementasi UU Haji yang memang memerlukan perubahan dan peninjauan ulang. Lalu, UU Pornografi yang juga dalam banyak hal belum bisa menjadi perlindungan dan/atau instrument untuk menjerat tindakan pornografi yang terjadi di masyarakat. Demikian pula perdebatan tentang rencana UU Anti Nikah Siri dan sebagainya. Mahasiswa Syariah tentu memiliki seperangkat kemampuan untuk melakukan kritik dan rekomendasi terkait dengan legal drafting dimaksud.  

Berikutnya adalah tantangan ekonomi global dalam bentuk kapitalisme yang semakin mencengkeram kehidupan ekonomi dunia.  Dewasa ini sistem kapitalisme semakin menuai kata kesaktiannya. Di tengah semakin kuatnya cengkeraman kapitalisme tersebut, maka juga tumbuh dengan subur sistem ekonomi syariah.  Dalam hal ini, maka yang menjadi tantangan bagi mahasiswa syariah ini adalah bagaimana mendorong  agar sistem ekonomi syariah bisa menjadi penyeimbang terhadap sistem ekonomi kapitalistik yang gigantic tersebut. Andaikan tidak mampu untuk menjadi penyeimbang akan tetapi dapat menjadi proses penyadaran baru tentang sistem ekonomi alternative. Mahasiswa Syariah tentu bisa memiliki andil untuk  mendorong hal ini.

Kedua, tantangan internal. Tantangan internal tersebut antara lain adalah perlunya peningkatan kualitas mahasiswa Syariah dalam kaitannya dengan kompetisi yang semakin ketat. Di tengah persaingan yang semakin kuat tersebut, maka mahasiswa Syariah tentu harus menyadari bahwa di depan matanya terdapat sejumlah competitor yang siap bersaing. Di dalam hal ini, maka mahasiswa Syariah lalu perlu untuk mengembangkan kaalitasnya. Dalam beberapa kesempatan saya sudah mengungkapkan akan pentingnya lembar kompetensi bagi mahasiswa untuk menandai kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dalam relasinya dengan mahasiswa lainnya. Di tengah kompetisi terkait dengan peluang pekerjaan, maka siapa yang memiliki keahlian lebih,  maka dialah yang akan memenangkan kompetisi tersebut.

Kemudian, tantangan semakin menurunnya animo mahasiswa untuk memasuki prodi Islamic studies. Jika kita amati maka sesungguhnya ada kegelisahan yang cukup berasalan tentang rendahnya animo memasuki pendidikan keislaman.  Dari tahun ke tahun, maka jumlah mahasiswa yang berkeinginan memasuki studi keislaman ternyata semakin menurun. Hal ini tidak hanya dialami oleh UIN,  akan tetapi juga IAIN dan STAIN. Penurunan minat studi Islamic studies tentu terkait dengan ketidakjelasan arah pekerjaan prodi Islamic studies di tengah kehidupan yang semakin secular. Makanya, harus ada sejumlah tindakan afirmatif untuk merumuskan apa yang seharusnya dilakukan untuk memberikan jaminan alumni prodi Islamic studies di tengah persaingan kesempatan bekerja tersebut.

Lalu, yang tidak kalah pentingnya adalah perubahan gelar kesarjanaan pada Fakultas Syariah. Apakah akan tetap dengan gelar SHI ataukah S. Sy. Gelar S.Sy tentu juga memiliki dasar rasionalitasnya sebab di dalam UU Advokat memang disebutkan tentang Sarjana Syariah dan bukan Sarjana Hukum Islam, makanya di dalam singkatannya disebutkan sebagai S. Sy dan bukan SHI. Untuk hal ini,  maka yang dibutuhkan adalah dialog untuk menemukan kesamaan yang menyangkit isu gelar ini. Namun yang lebih mendasar adalah bagaimana gelar yang dimiliki oleh mahasiswa Syariah itu juga menggambarkan keahlian yang setara dengan gelarnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

0 Response to "TANTANG FORUM MAHASISWA SYARIAH"

Post a Comment